Hitam-Putih Merpati
March 22nd, 2008 by prince-darknessAku baru saja mencium langit. Kembali dari duniaku yang berada di balik
awan. Ada sebuah harap yang kusembunyikan di sana. Yang kuharap suatu
saat akan terlepas bebas. Meski kusadari nyaris tak bisa terwujudkan.
Karena aku merpati hitam. Merpati hitam yang hanya ditakdirkan untuk
sesama merpati hitam. Padahal aku telah takluk pada sesosok makhluk.
Sayangnya bukan mepati hitam sepertiku. Ia merpati putih. Pujaan di
istana hatiku. Yang dalam hari-hariku selalu kupandangi dari duniaku
bersembunyi; di balik awan.
“Merpati tak pernah ingkar janji”,
seperti itu ayahku berpesan kepadaku. Aku ingin menyanggah. Tapi
kuurungkan demi seonggok rasa hormatku pada ayahku.
Aku ingin
bertanya, apa arti sebuah janji? Toh nyatanya janji itu hanyalah janji
yang terungkap oleh nenek moyangku dulu. Bahwa kami –kaum merpati
hitam- hanya akan menikahi sesama kami. Setelah sebelumnya dijodohkan
terlebih dahulu oleh kaum manusia itu. Kaum yang merasa jumawa, seakan
penuh kuasa. Nyatanya mereka hanya makhluk lemah.
Hari ini sama
seperti hari-hari belakangan dalam sebulan ini. Hari pelarianku. Karena
aku dijodhkan. Bagaimana mungkin aku harus mencintai sosok yang bahkan
tak pernah kukenal dan kulihat sebelumnya? Ini bukan lagi zaman Siti
Nurbaya bung! Kenapa tak biarkan kehendak bebas melenting sempurna?
Jangan berikan tumbukan di jalurnya. Toh, nantinya tumbukan akan
melahirkan momentum, p=m.v, begitu kata kaum manusia, kuintip di suatu
ketika pelajaran yang namanya Fisika.
Aku berani bertaruh, besok
tak akan jauh berbeda dari hari ini. Ayahku yang kolot itu pasti akan
kembali memaksaku menemui si Ms. Nonsense yang tak kukenal itu.
Pastinya bakal keluar lagi bujukan-bujukan kuno dari mulutnya itu. “Sebenarnya
apa sih yang jadi masalah dari semua ini? Lihat ayah dan ibumu! Kami
juga dijodohkan sama seperti halnya kamu. Dan nyatanya cinta bersemi di
antara kami berdua. Melahirkan kamu. Melahirkan adik-adikmu. Yang
namanya cinta itu akan tumbuh seiring kebersamaan. Weting trisno
jalaran soko kulino, begitu kata kaum manusia Jawa.” Ya ya ya, aku menganggukkan kepalaku sebagai formalitas belaka.
Aku
merpati hitam. Kini kembali bersembunyi di balik awan. Sekali lagi aku
mengintai pujaanku; merpati putih. Ia memang benar sempurna adanya.
Matanya yang bening, bulu-bulunya yang halus lembut memancarkan
keindahan, dan pada setiap kepakannya seakan menebarkan cinta. Tapi
semakin jauh harapku untuk memilikinya. Entah bagaimana ku bisa
membujuk keduaorangtuaku agar menyetujui pendapatku ini.
Kembali
ku kepakkan sayapku. Mengusir sayu yang sejak tadi menyelimuti. Di
bawah sana, mahadewi gravitasi menyumpah serapahku karena tak terikat
diriku olehnya. Aku sungguh bingung. Kenapa rasisme masih terjadi di
zaman ini? Kenapa kaum merpati tak mencontoh para manusia dalam hal
ini? Di sebuah Negara yang namanya Amerika misalnya, kulit hitam sudah
berani dan berhasil mengekspresikan dirinya. Para penyanyi-penyanyi
favoritku rata-rata berkulit hitam. Rihanna misalnya.
Aku
sedikit lelah. Lalu hingap pada beringin tua yang sudah jadi tempat
peristirahatanku dari saat ku belajar mengepakkan sayap. Sungguh teduh.
Sesekali angin manja menggoda dengan semilirnya. Aku kembali berpikir
bagaimana mewujudkan keidealisanku ini. Revolusi! Ya REVOLUSI MERPATI.
Seperti halnya manusia, berbagai kemajuan dicapai dengan sebuah
revolusi. Revolusi industry di Eropa misalnya yang mengubah gaya hidup
bertani menjadi industry. James Watt kalau tak salah. Nama dari manusia
yang menjadi inspirasi revolusi ini dengan menciptakan mesin watt. Dan
kini, haruskah aku menjadi James Watt-nya kaum merpati? Mengubah gaya
hidup dan tradisi yang sudah tak cocok lagi di zaman ini? Aku
tersenyum. Mengembang.
*************************
Esoknya segera kusebarkan woro-woro pada setiap merpati hitam. Gairah revolusi coba kukoorkan dengan penuh kesungguhan.
“Saudara-saudaraku
yang terhormat, waktu telah berganti. Dan sekarang bukanlah yang dulu
lagi. Apalah arti sebuah janji yang tak memiliki arti? Kita, merpati
hitam, sudah saatnya mengubah prinsip dan tradisi. Tak perlu lagi
menikah hanya dengan sesama jenis merpati. Hitam sudah selayaknya
menyatu dengan putih!”
Aku berteriak penuh semangat. Aku pikir
tadinya ucapanku akan disambut dengan standing ovation dari mereka
semua. Tapi yang ada hanya keheningan. Ah, kupikir mereka hanya sedang
termangu memikirkan kata-kataku barusan. Tak peduli, lantas kulanjutkan
lagi.
“Saudara-saudaraku semuanya, merpati memang tak seharusnya
ingkar janji. Tapi itu jika janji terebut memang penuh arti. Nyatanya
tidak. Tanyakan pada pikirmu kawan, logika mana yang mengizinkan
kehendak bebas dari kita terkurung dalam tirani janji? Biarkan lepas
seperti saat kita terbang di langit tinggi. Bayangkan moleknya para
merpati putih. Sudah saatnya kita, sebagai generasi di zaman ini,
memilih untuk melakukan persilangan dengan mereka. Melahirkan abu-abu!”
Mereka
masih diam. Ada yang tatapannya kosong tak mengerti. Ada yang menatapku
rendah. Seakan aku ini hina. Seakan pemikiranku hanyalah sampah yang
tak punya harga. Hingga satu per satu dari mereka pergi terbang
meninggalkanku.
Semangatku surut. Tapi ternyata ada seekor merpati masih menatapku. Menungguiku. Seakan ingin menyampaikan katanya padaku.
“Wahai, terima kasih kau mau mendengarkanku. Terima kasih atas kepedulianmu dengan tidak meninggalkanku sendiri.”
“Oh
Tidak, aku hanya sedang menikmati pemandangan makhluk terbodoh dan
terhina yang ada di hadapanku. Mungkin takkan ada lagi pemandangan
seperti ini dalam satu abad ke depan.”
Ia tertawa. Benar-benar merendahkanku. Lantas ia terbang menjauh. Meninggalkanku di sini. Sendiri.
**************************
Air
mataku sudah ingin mengalir. Tak percaya akan kenyataan yang baru
terjadi. Tidak adakah satupun dari kaumku yang punya pikiran yang sama
denganku? Hah, betapa menyedihkannya aku. Segera kuistirahatkan tubuhku
di beringin favoritku. Menyenandungkan irama hatiku yang sendu. Lantad
dari kejauhan terlihat sesosok merpati hitam terbang mendekat. Tampak
asing bagiku. Tak kukenal. Menghampiriku.
“Ada keperluan apa
engkau terbang ke sini? Aku tak sudi kau ganggu, apalagi jika hanya
ingin mengejekku atas pemikiranku yang kalian bilang hina tadi!”
Aku
memang masih emosi. Aku sedang ingin sendiri. Tak ingin diganggu.Tapi
anehnya ia malah tersenyum lembut. Memang manis untuk ukuran merpati
hitam. Meski tak sebanding dengan pujaan hatiku.
“Maaf, aku tak
berniat mengganggumu. Apalagi mengejekmu. Justru aku kagum dengan
keberanianmu, dengan kegagahanmu barusan. Aku ingin mengenalmu sebagai
teman. Bisakah?”
Aku diam tak menjawab. Sedikir ganjil kurasa.
Meski kuakui ada perasaan bahagia menyelinap karena setidaknya ada yang
‘menganggap’ keberadaanku.
“Ah, aku tahu kau selalu hinggap di
sini di sela terbangmu. Rasanya cukup pertemuan kita hari ini.
Biarkanlah kau menenangkan dirimu dulu. Kapan-kapan aku akan kembali
menghampirimu di sini. Mungkin saja kita bisa berbincang hangat dengan
secangkir kopi.”
Ia tersenyum. Aku pun seakan dipaksa untuk tersenyum padanya. Menganggukkan kepalaku. Lalu ia pergi, terbang ke langit tinggi.
************************
Langit
masih biru. Setia dalam perjalanannya. Aku masih memikirkan
‘kehinaan’-ku. Apa yang salah dari semua itu? Mungkinkah tak cukup
hanya kata? Tapi bukti! Ya, benar. Aku harus bisa membuktikan bahwa
merpati hitam bisa menyatu dengan merpati putih.
Entah
tertakdirkan atau tidak, di langit tinggi itu, merpati putih pujaanku
sedang mengepakkan sayapnya sendiri. Segera kukerahkan segenap tenaga
dan keberanian untuk menghampirinya. Menyatakan perasaan dan
pemikiranku padanya.
“Wahai merpati putih, bisakah sejenak kita berbicara dari hati ke hati?”
Ia menatapku dari atas hingga ke bawah. Seakan menilai ‘harga’-ku. Ekspresinya dingin. Mungkin karena ia tak mengenalku.
“Maaf, aku tak mengenalmu. Bisakah kau tinggalkan aku?”
Aku
maklum pada ucapannya. Antara merpati hitam dan merpati putih memang
seakan terhalang tabir yang tinggi. Sulit untuk terlewati. Dunia kami
pun tak sama. Jadi, mungkin saja ia takut dan asing padaku.
“Jujur
saja, aku menyukaimu merpati putih. Aku selalu memperhatikanmu dari
balik awan. Selalu memimpikanmu dalam setiap malam-malamku …”
Ia mengernyitkan alis matanya, “Bisa kau ulangi?”
“Wahai,
zaman sudah berubah. Kini tradisi butuh revolusi. Tak perlu lagi
terikat janji yang tak berarti. Aku ingin kau tahu perasaanku padamu.
Aku mencintaimu. Aku ingin memberi bukti pada kaumku bahwa merpati
hitam dan merpati putih memang bisa bersatu. Tak perlu lagi seperti
halnya selama ini.”
“Wahai, sadarkanlah dirimu. Pemikiranmu itu
hina. Bid’ah terkejam yang pernah kudengar. Saranku untukmu segeralah
periksakan otakmu ke psikiater kaum manusia. Mungkin saja ada salah
satu aksonmu yang konslet hingga tersalah pikirmu. Coba kau tatap
dirimu di cermin, dan bandingkan dengan aku. Kita berbeda bung!
Melihatmu saja aku sudah merasa jijik. Hitam, seperti tak pernah mandi
berhari-hari. Dan aku benci hitam! Jadi sebaiknya kau kubur harapmu itu
dalam-dalam di perut bumimu. Jangan pernah kau cuatkan lagi. Ya, karena
kau yang tak mau pergi.maka biarkanlah aku yang pedgi. Dan jangan
pernah kau intai aku lagi di balik awanmu itu!”
Ia menjauh
pergi. Sementara telah lebur hatiku. Sedikitpun ia tak mau mengerti.
Aku menangis. Dan perlahan kehilangan dayaku. Kepakkanku melemah. Lalu
terjatuh.
Aku merpati hitam
Baru saja mencium langit
Mengintip jeruji darimu
Pergi
Lantas tersenyum
Tapi di hatiku ada hujan*